Archive for 2010

BAB II


BABA II 

TINJAUAN PUSTAKA

A.    Al Qur’an Sebagai Ilmu Pengetahuan
Menurut Dr. H. Hamzah Ya’qub dalam bukunya Khasanah Iptek dalam Al Quran (2005 : 70 ). Tekstil adalah kebutuhan pokok manusia. Untuk memenuhi hajat primer tersebut, Allah telah menjelaskan berbagai bahan mentah yang dapat diolah menjadibahan pakaian.
Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa[531] itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat. ( QS al A’raf : 26 )
Pakaian berguna bagi manusia untuk melindungi diri dari udara dingin dan panas. Pakaian itulah yang membedakan manusia dengan hewan. Jika kebutuhan pakaian ini diabaikan, martabat manusia menjadi hina seperti hewan. Itulah sebabnya setan berusaha memperdaya Adam dan Hawa dengan melucuti pakaian keduanya sehingga aurat keduanya kelihatan.
 
Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh syaitan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapamu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya 'auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dan suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan syaitan-syaitan itu pemimpin-pemimpim bagi orang-orang yang tidak beriman. ( Qs al – Araf  : 27 )
Dari firman allah diatas diketahui bahwa pakaian bukan hanya sebagai pelindung badan dari dingin dan panas, tetapi juga symbol dari ketakwaan kepada allah swt. Dengan pentingnya berpakaian, dilihat dari fungsinya pelindung badan, hingga atribut kehormatan manusian dan kewajiban menutup aurat dalam solat sepatutnya kaum mukmin memperhatikan khusus. Pada pokoknya kerajinan dalam bidang ini memberikan kesempatan kerja mulai dari penanaman kapas, dan peternakan biri – biri, hingga pemintalan, pencelupan, pertenunan dan pemasaran.
A.    Tinjauan Bahan Baku Serat Kapas
1.      Serat Kapas.
a.       Mutu Kapas
Kapas mempunyai mutu yang baik sebagai bahan sandang. Untuk di pintal terdapat sifat – sifat memegang karena oleh kekusutannya, kehalusan dan panjang yang cukup, kekuatan yang sedang dan dapat melar dan permukaannya mengandung lilin alam.
Mutu kapas ditentukan oleh 3 faktor yaitu grade kapas, panjang staple dan karakter :
a)      Grade Kapas
Grade kapas ditentukan oleh warna, kotoran, dan persiapan
1)      Warna
Meskipun pada umumnya serat kapas berwarna putih, tetapi kalau diperhatikan sebenarnya terdapat bermacam – macam warna putih. Pengaruh dari mocro organisme menyebabkan warna kapas menjadi suram. Dalam kondisi cuaca buruk warna kapas menjadi sangat gelap berwarna abu – abu kebiru – biruan.
Kapas yang pertumbuhanya yang terhenri akan berwarna kekuning – kuningan. Kapas mungkin mejadi berbintik – bintik karena pengaruh jamur, serangga dan kotoran.

2)      Kotoran.
Termasuk dalam kotoran adalah daun, ranting, kulit batang, biji, pecahan biji, rumput, minyak dan debu. Beberapa kotoran tersebut merupakan kotoran asli tetapi sebagaian besar disebabkan oleh kotoran yang menempel pada serat kapas selama berada dikebun dan pada pemetikan.
3)      Persiapan.
Pesiapan adalah istilah yang dipergunakan untuk menerangkan derajat kebaikan hasil pemisahan serat kapas dari bijinya, banyaknya nep dan nap. Nep adalah kelompok serat – serat yang membentuk pita atau tali yang masih dapat diuraikan dalam proses pemintalan.
b)      Panjang Staple.
Panjang staple merupakan faktor yang sangat penting yang menentukan mutu kapas, karena baik kehalusan dan kekuatan serat berhubungan dengan panjuang serat suatu jenis kapas tertentu.
c)      Karakter.
Karakter adalah suatu sifat yang menentukan mutu kapas kecuali grade dan panjang staple. Karakter dapat dipergunakan sebagai tambahan keterangan mengenai daya pintal serat.
b.      Morfologi.
1)      Memanjang.
Bentuk memanjang serat kapas pipih seperti pita yang terpuntir kearah panjang, serat terbagi tiga bagian diantaranya dasar, badan dan ujung, tapi pada umumnya berbentuk seperti ginjal. Dimensi yang terpenting adalah panjangnya, perbandingan panjang dengan lebar bervariasi dari 5000 : 1 sampai 1000 : 1. Kapas yang lebih panjang cendrung mempunyai diameter lebih halus, lebih lembut dan mempunyai konvolusi yang lebih banyak.
2)      Melintang.
Bentuk penampang serat kapas biasanya bervariasi dari pipih sampai bulat tetapi pada umumnya berbentuk seperti ginjal. Serat kapas dewasa penampang lintangnya terdiri dari enam bagian diantaranya kutikula, dinding primer, lapisan antara, dinding sekunder, didnding lumen dan lumen.
1.      Kedewasaan Serat
Kedewasaan serat kapas dapat dilihat dari tebal tipisnya dinding sel, serat makin dewasa diding selnya makin tebal.untuk menyatakan kedewasaan serat dapat dipergunakan perbandingan antara tebal dinding dengan diameter. Serat dianggap dewasa apa bila tebal dinding lebil besal dari lumenya.
Kapas yang belum dewasa dalam jumlah besar, dan dalam pengolahan juga akan menimbulkan terjadinya nep, yaitu sejumlah serat kapas yang kusut menjadi suatu bentuk bulatan – bulatan kecil yang tidak dapat diuraikan lagi dalam proses pengolahan berikutnya. Adanya nep menghasilkan benang yang tidak rata dan terjadinya bintik – bintik berwarna muda pada bahan yang telah dicelup.
2.      Sifat Fisika Serat Kapas
a.       Warna
Warna serat kapas tidak benar - benar putih, biasanya sedikit krem. Beberapa jenis kapas yang seratnya panjang seperti kapas Mesir dan Pima, warnanya lebil cream dari kapas up land dan sea Island.
b.      Kekuatan
Kekuatan serat kapas di pengaruhi kadar selulosa dalam serat, panjang rantai dan orientasinya. Kekuatan serat kapas per bundel rata rata adalah 96.700 pound per inchi dengan minimum 70.000 pound per inch dan maksimum116.000 pound per inch.
c.       Mulur
Mulur saat putus serat termasuk tinggi diantara serat – serat selulosa alam, kira – kira dua kali serat rami.
d.      Keliatan
Keliatan adalah ukuran yang menunjukan kemampuan suatu benda untuk menerima kerja dan merupakn sifat yang penting untuk serat – serat tekstil terutama yang dipergunakn sebagai tekstil untuk keperluan industri.
 e.   Kekakuan
     Kekakuan dapat didefinisikan sebagai daya tahan terhadap perubahan bentuk dan untuk tekstil biasanya dinyatakan sebagai perbandingan serat saat putus dengan mulur saat putus.
f.       Moisture Regain
      Moisture Regain serat kapas bervariasi dengan perubahan kelembaban relatif atmosfir sekelilingnya. Moisture Regain serat kapas pada kondisi standar berkisar antara 7 – 8.0 %.
         g.  Berat Jenis
Berat Jenis serat kapas 1.50 sampai 1.56.
h.      Indeks Bias
Indeks bias serat kapas sejajar sumbu serat 1,58, indeks bias melintang sumbu serat 1,53.
3.      Sifat Kimia Serat Kapas
            Komposisi Kimia Serat Kapas
            Komposisi kimia serat kapas dapat ditunjukan dalam tabel berikut ini :
 Tabel 1
Komposisi Kimia Serat Kapas
Komposisi
% Terhadap Berat Kering
Selulosa
94
Protein
1,3
Pekat
1,2
Lilin
0,6
Abu
1,2
Pigmen dan Zat – Zat Lain
1,7
·         Moisture Regain Serat 8%
      Oleh karena kapas sebagian besar tersusun atas selulosa maka sifat – sifat kimia kapas adalah sifat – sifat kimia selulosa. Serat kapas pada umumnya tahan terhadap penyimpanan, pengolahan dan pemakain yang normal, tetapi beberapa zat pengoksidasi atau penghidrolisa menyebabkan kerusakan dengan akibat penurunan kekuatan. Kerusakan karena oksidasi dengan terbentuknya oksidasi selulosa biasanya dalam proses pemutihan yang berlebihan, penyinaran dalam keadaan lembab atau pemanasan yang lama diatas suhu 1400c. kapas mudah diserang oleh jamur dan bakteri, terutama pada keadaan lembab dan pada suhu yang hangat.
      Akhir – akhir ini banyak dilakukan modifikasi secara ilmiah mempergunakan zat – zat kimia tertentu untuk memperbaiki sifat – sifat kapas semisal stabilitas dimensi, tahan kusut, tahan air, tahan api, tahan jamur, tahan kotoran dan sebagainya.
A.    Konsep Pemintalan
Pemintalan adalah proses pembuatan benang kapas maupun serat buatan, dalam pemintalan benang terbagi menjadi dua yaitu :Pembuatan benag  carded dan  combed,  ada pun proses yang diteliti oleh peneliti adalah proses pembuatan benang carded.
Proses pemintalan benang carded dibagi dalam tahap – tahap berikut:
Blowing       Carding        Drawing       Roving       Ring Spinning       Winding
Dalam penulisan ini, dibatasi hanya proses mesin carding saja.
B.     Tujuan Mesin Carding
Menurut Pawitro ( 1973 : 105 ) dalam bukunya Teknologi Pemintalan, agar serat – serat dapat dikenakan tarikan ( drafting ) dengan baik dalam proses berikutnya, gumpalan – gumpalan serat tersebut harus sudah terurai menjadi serat individu, bersih dari kotoran – kotoran dan mempunyai arah yang tertentu. Untuk mencapai kondisi serat yang sedemikian itu, maka lap hasil dari mesin Blowing masih perlu di dibuka dan dibersihkan lebih lanjut dengan cermat, seperti yang terjadi pada mesin Carding yang produksinya jauh lebih kecil dari mesin Blowing. Dengan permukakan yang penuh dengan kawat – kawat yang tajam dan lebih halus, serta penggarukan – penggarukan relatif lebih cermat, maka mulai terarah letak serat – seratnya serta terurai gumpalan serat tersebut, menjadi serat – serat yang terlepas satu dengan yang lain. Dengan demikian kotoran – kotoran yang ada didalam maupun yang tersangkut pada serat lebih mudah dibersihkan dan dipisahkan.
Secara singkat tujuan mesin Carding adalah :
a.       Membuka gumpalan – gumpalan serat lebih lanjut, sehingga serat – seratnya terurai satu sama lain.
b.      Membersihkan kotoran – kotoran yang masih ada didalam gumpalan – gumpalan serat atau yang tersangkut sejauh mungkin.
c.       Memisahkan serat – serat yang pendek dari serat – serat yang panjang.
d.      Membentuk serat – serat tersebut menjadi sliver, dengan arah serat kesumbu dari sliver.
Di lain pihak, menurut pandangan Shigeru Watanabe ( 1980 : 88 ) dalam bukunya fungsi mesin carding adalah sebagai berikut :
a.       Aksi Carding.
Perlakuan carding dipergunakan untuk melepas dan memisahkan serat menjadi elemen tunggal, dan mensejajarkannya satu yang lain sejajar mungkin dengan tindakan kawat dan dengan bantuan aliran udara.
b.      Aksi pembersihan.
Pembesihan membuang kotoran seperti trush dan Nep serta serat – serat pendek didalam serat yang telah di lepaskan.
c.       Aksi pemindahan.
Tindakan ini adalah untuk memindahkan serat kebagian yang rapih dan juga menjalani aksi carding dan pembersih. Untuk menjamin tindakan yang efektif, harus dilakukan pemeriksaan terhadap card clothing, MCC ( Metallik Card Clothing ), perbandingan kecepatan, ukuran dan aliran udara.
1.      Prinsip Carding
      Prinsip carding adalah melewatkan lapisan atau gumpalan serat diantara dua permukaan yang menyerupai parut kawat yang bergerak dengan kecepatan yang tidak sama. Dengan demikian gumpalan serat tersebut akan tergaruk dan teruri serta kotoran yang ada di dalamnyaakan dapat dipisahkan dan di bersihkan karena jarak kedua permukaan tersebut sangat dekat, maka gumpalan serat tersebut akan membentuk lapisan serat tipis yang tersebar keseluruh permukaan.
Menurut Pawitro ( 1973 : 144 ) dalam bukunya  Teknologi Pemintalan, ada dua macam kawat tajam ( card cloting ) yang biasa dipakai untuk menutup permukaan dari mesin carding, yaitu :
a)      Flexible Wire Cloting : Pada prinsipnya terdiri dari dua bagian pokok, masing – masing ialah pondasi dan kawat yang tajam.
b)      Metallic Wire Cloting : Terdiri menyerupai pita baja yang bergigi seperti halnya mata gergaji dengan sudut tertentu lalu di pasang disekeliling permukaan silinder
Pada mesin Carding ada dua gerak pokok, yaitu Carding Action da Stripping Action.
a.       Carding Action ( Gerakan Penguraian )
      Terjadi apa bila arah bagian jarum yang tajam pada kedua permukaan berlawanan arah, dan kecepatan kecepatan kedua permukaan sedemikian , sehingga bagian yang tajam dari jarum pada permukaan yang lebih cepat, seakan – akan beradu dengan bagian yang tajam pada kedua permukaan berlawanan arah dari jarum pada permukaan yang dilaluinya.
Pada proses carding, gerakan carding terjadi antara flat yang bergerak dan silinder yang bergerak cepat, juga terjadi antara silinder dengan doffer yang bergerak relatif lambat.
a.       Stripping Action ( Gerakan pengelupasan / Pemindahan )
            Terjadi apa bila arah bagian jarum yang tajam pada kedua permukaan yang saling berhadapan sama, sehingga bagian yang tajam dari jarum pada permukaan yang bergerak cepat, seakan – akan menyapu bagian yang tumpul dari jarum pada permukaan yang dilalui
 Pada proses carding, gerakan pengelupasan / pemindahan terjadi antara Taker – In dan silinder. Dalam hal ini kecepatan permukaan silinder relatif lebih besar dari pada kecepatan permukaan Taker – In, sehingga serat yang ada dipermukaan Taker – in seakan – akan dipindahkan silinder.
A.    Fungsi Bagian – Bagian Mesin Carding
1.      Bagian Penyuapan.
a.       Unit penyauapan.
1)      Lap Roller.
Gulungan lap ini, menggunakan bahan baku kapas 100% yang dihasilkandari mesin Blowing dengan berat 25 kg / yard. Diameter lap roller yaitu 57 mm beralur kearah memanjang, berfungsi untuk menjepit lapisan serat kapas waktu terjadi pembukaan oleh taker – in dan agar terdapat penyuapan yang konstan.
2)      Pelat penyuap ( Dish Plat ).
Pelat penyuap ini berfungsi sebagai penghubung antara rol pemutar dengan rol penyuap. Pelat ini punya permukaan rataserta lisin dan di buat dari besi tuang yang ujung depanya melengkung sedikit keatas sesuai dengan ukuran rol penyuapnya, serta mempunyai hidung yang disesuaikan dengan rol pengambilnya.
3)      Rol penyuap(  Feed roller ).
Panjang rol penyuap ini sama dngan dengan lebar dari rol penyuapnya dan mempunyai diameter 52 mm serta punya permukaan yang teratur. Bentuk alur lebih dalam, lebih tajam dari pada rol pemutar sehingga dapat menjepit, memegang serat dengan kecang. Rol penyuap mempunyai pembeban menggunakan bandul, fungsi dari plat dan rol penyuap untuk menyuapkan kapas dengan kecepatan yang tetap serta menjepit sewaktu Taker – In menjalankan pembukaan.
1)      Tekanan Pada Rol Penyuap.
      Agar  serat yang di suapkan ke rol pengambil tidak mudah di cabut pada waktu kena pukulan /pengambilan dari rol pengambil, maka serat yang disuapkan tersebut harus dipegang/dijepit antara rol penyuap dan plat penyuap. Jepitan ini diperoleh dengan memberikan tekanan atau beban rol penyuap.
a.       Unit Pembuka dan Pembersih.
1)      Rol pengabil ( Taker – In ).
 
Rol pengambil ini atau taker – in adalah suatu silinder yang mempunyai diameter kurang lebih 9 inch dengan panjang selebar mesin carding ( 40 – 45 inch ).
Permukaan ini ditutup dengan gigi yang tajam seperti halnya gigi gergaji yang memebentuk segi tiga dan di kenal dengan nama carnet war. Bentuk dan banyaknya gigi gergaji ini di sesuaikan dengan jenis dan sifat – sifat dari serat yang diolahnya.

1)      Pisau Pembersih ( Mote knife ).
      Untuk membersihkan serat kapas dari debu, patahan ranting, daun yangt kering dan kotoran – kotoran lain yang masih terbawa dalam kapas, dipasang lah dua buah pisau pembersih di bawah Taker – In sehinga kotoran dan debu yangdibersihkan dapat jatuh melalui kedua celah pisau tersebut.
1.      Bagian Penguraian.
      Bagian ini merupakan bagian trepenting dari mesin carding, dimana penguraian gumpalan – gumpalan serat menjadi serat – serat yang terpisah satu sama lainnya. Bagian ini terdiri dari :
a.       Silinder Utama
        Silinder merupakan jantung dari mesin carding, silinder ini dibuat dari besi tuang mempunyai diameter 1290 mm dan lebar 1143 mm. Pada kedua penampang sisi kiri – kananya dipasang kerangka, seperti halnya jari – jari pada roda dan ditengah dipasang poros.
        Di antara jari – jari pada penampangnya tersebut ditutp denga pelat besi agar menghindari kemungkinan – kemungkinan timbulnya aliran udara yang tidak dikehendaki.
        Permukaan dari silinder tersebut kemudian ditutupi dengan card cloting, sehingga menyerupai permukaan parut. Pemasangan card cloting ini harus secara khusus supaya permukaan permukaannya dapat rata, terutama pada awal dan akhir pemasangan.
b.      Pelat Depan dan Pelat Belakang.
        Bagian depan silinder antara flat dan doffer ditutupi dengan pelat – pelat yang melengkung seperti permukaan silindernya, demikian bagian belakang silinder antara flat dan Taker – In.
        Penutupan permukaan silinder pada bagian – bagian tersebut dimaksudkan agar serat – serat yang ada dipermukaan silinder tidak beterbangan kemana – mana, meskipun terjadi aliran udara selama proses.
c.       Flat Carding.
 
Flat pada mesin carding dibuat dari batang besi yang mempunyai penampang seperti huruf  T , agar dapat memperkuat permukaan flat, sehingga tidak mudah melengkung pada waktu penggarukan. Panjang flat ini selebar mesin cardingnya, pada permukaan yang datar ini di tutupi dengan card cloting.
a.       Flat Cloting.
        Pemasangan flat cloting pada flatbar mempunyai cara yang khusus apabila dibandingkan pemasangan card cloting pada silinder dan doffer. Flat cloting ini berukuran sesuai dengan batang flatnya, dan dipasang pada permukaan yang data dari batang flat.
b.      Saringan Silinder
        Saringgan silinder ini merupakan penutup atau saringgan dari bagian bawah silinder.
Adapun fungsi dari saringan silinder yaitu:
1.      Menahan kapas yang ada dipermukaan silinder supaya tidak jatuh kebawah.
2.      Membiarkan kotoran – kotoran, debu dan serat – serat jatuh melalui celah – celah saringan.
                              Saringan silinder terdiri dari
a)      Pelat logam sepanjang 13 inch dibagian belakang.
b)      Batang – batang sejumlah 52 buah yang merentang sepanjang 36 inch.
c)      Pelat logam sepanjang 11 inch dibagian depan.
A.    Kecepatan Putaran Taker – In
      Kecepatan putaran Taker – In mempunyai putaran yang cukup tinggi, dan karena adanya saringan dan tutup diantaranya maka terjadilah aliran udara pada permukaannya.
      Arah wire yang tajam pada taker – In juga menghadap kearah putaran taker –In, Taker – In dan silinder bergerak kearah pada titik singgungnya, namun karena kecepatan putaran Taker – In kurang lebih hanya setengah kecepatan permukaan silinder, maka ujung – ujung yang tajam dari bawah atau gigi – gigi pada pemukaan silinder akan menyapu wire gergaji pada Taker – In dititik singgung keduanya.
      Dilain pihak, Shigeru Watanabe, dalam bukunya ( 1980 : 90 ) untuk mengurangi nep pada jaringan card sampai minimum, antara lain aliran udara harus merata tanpa turbulensi pada Taker – In dan perbandingan kecepatan dari Taker – In dan silinder card harus cepat.
      Adapun perubahan high speed motor pada  taker – in pada umumnya 400 sampai 500 rpm, tetapi apa bila dirubah menjadi ke high speed 750 sampai 800 rpm maka yang ditibulkan adalah fungsi penyisiran meningkat dan nep pun berkurang, pemindahan serat dari taker – in ke silinder menjadi baik
B.     Mutu Nep Web Carding.
      Untuk menjaga agar mutu dari pada sliver hasil mesin carding tetap standar sesuai dengan yang diinginkan, diperlukan cara – cara atau metode penghasilan mutu dan standarnya.
      Pengendalian mutu yang dimaksudkan adalah untuk mempelancar jalanya produksi sesuai dengan standar yang telah ditetapkan.
1.      Berat sliver dan CV % dimana makin kecil CV% berat , makin baik kualitasnya.
2.      Jumlah nep di dalam web / 100 cm2 dimana makin sedikit jumlah nep makin baik kualitasnya.
a.       Nep Web.
      Nep adalah bintik kecil kumpulan serat atau gumpalan serat pada umumnya tidak lebih besar dari kepala jarum pentul, terjadinya nep pada kapas diakibatkan karena kapas itu sendiri atau karena oleh mesin carding.
      Didalam finising, nep dapat menyebabkan perbedaan shade warna atau kain belang dalam spinning, nep dapat menyebabkan benang mudah putus karena nep mengganggu dalam drafting.
b.      Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Nep
      Didalam sliver carding terkandung serat panjang yang membentuk benang, serat pendek yang penyebab benang tidak rata. Nep yang terkandung didalamnya merupakan slah satu item penting untuk memutuskan baik tidaknya kualitas sliver carding. Nep tidak hanya penyebab putus benang pada proses spinning dan tenun, tetapi juga memberikan cacat yang fatal pada kain tenun dan menurunkan penampakan benang ( performance benang ) selain itu menimbulkan ketidak rataan dying dan berpengaruh besar pada kualitas produk.
      Nep juga ada didalam kapas dan juga terjadi pada penyisiran kapas dan proses selanjutnya. Akan tetapi penyebab utama adalah bermacam kekhasan kapas, operasional setiap proses, pengontrolan maintenance dan pemgontrolan temperature serta RH.
c.       Jumlah nep web dapat dihitung dengan berbagai cara, antara lain adalah:
1)      Jumlah nep persatuan luas tertentu, biasanya 10 cm x 10 cm dengan menggunakan papan hitam.
2)      Jumlah nep per 10 cm sliver carding yang nomor benangnya diketahui.
3)      Jumlah persatuan berat ( gram ).
d.      Berat sliver.
      Pengujian berat sliver didalam industri biasanya diatur dalam program yang telah di tentukan masing – masing  perusaan agar dapat mengontrol semua mesin carding. Kebutuhan frekuensi pengujian dan fasilitas yang tersedia dari masing – masing pabrik. Pengujian berat sliver dilakukan dengan menimbang dengan satuan berat grain.

Posted in:
Tags:

Continue Reading

BAB I

 
BAB I
PENDAHULUAN
A.     Latar Belakang Penelitian
      PT. KUMATEK adalah pabrik pembuat benang yang turut ambil dalam kiprah persaingan dalam industri tekstil sejak berdirinya pada tahun 1976  dan mampu meng exsport sebagian besar produksinya keluar Negeri. Dengan di tunjang kecanggihan ilmu teknologi yang sekarang ini, tetapi di lain pihak dari dampak kemajuan tersebut di sana sini dijumpai persaingan dalam memasarkan hasil produksi apa lagi dengan di bukanya pasar bebas, dimana hasil produksi dari luar negeri dapat bebas di jual di dalam negeri.
      Perkembangan  industri tekstil di Indonesia merupakan salah satu komoditi ekspor non migas yang cukup banyak memberikan  devisa bagi negara. Meskipun kondisi ekonomi di Indonesia saat ini belum menentu, dimana kondisi terebut sangat berdampak terhadap dunia industri di indonesia salah satunya dalam bidang tekstil. Tetapi hal tersebut tidak mengurangi laju perkembangan industri dan kemajuan  teknologi dalam bidang tekstil. Maka upaya nyata kearah peningkatan daya saing, baik nasional maupun internasional dan mengembalikan kejayaan dunia pertekstilan Indonesia di mata dunia yaitu dengan cara menghasilkan benang yang bermutu baik. Untuk pembuatan benang di gunakan bahan baku yang berasal dari serat-serat alam atau serat-serat buatan, baik berupa staple atau filamen. Staple adalah serat-serat yang berupa potongan-potongan pendek, sedangkan filamen adalah serat yang kontinu dengan sangat panjang.
Dalam proses produksi salah satunya adalah pembuatan benang garuk (carded) Ne1 10’s yang di buat dari 100% kapas Amerika  yang arus prosesnya dari serat hingga terciptanya benang secara berurutan melalui unit – unit mesin : Blowing, Carding, Drawing, Roving, Ring Spinning dan mesin penggulung Winder. Pemakaian kapas Amerika  ini sebenarnya merupakan salah satu untuk memperoleh biaya bahan baku yang lebih rendah untuk benang garuk ( carded ) Ne1 10’s, karena kapas ini relatif lebih murah di bandingkan harga kapas Australia ( PIMA ). Dengan menggunakan kapas ini setelah di proses, kualitas benang Ne1 10’s yang di hasilkan masih belum memenuhi standar yang diharapkan. Sehingga penyimpangan mutu maupun hambatan yang dirasakan masih berpengaruh terhadap produksi adalah sebagai berikut :
1.      Jumlah nep kadang – kadang sering naik secara berurutan melebihi batas kontrol.
2.      Jumlah nep di mesin Carding melebihi standar yang di tetapkan, dimana nep rata – rata pada bulan terakhir antara Januari - Februari sebelum mengadakan penelitian sebanyak 36 s/d 48 sedangkan standart yang di tetapkan oleh perusahaan maksimal 25 dengan satuan  per 100 cm2 dari data 10 cm x 10 cm.
Berdasarkan hal tersebut penulis terdorong untuk melakuan penelitian untuk mengtahui pengaruh dari kecepatan putaran taker-in yang berbeda tidak di sertai perubahan settingan peralatan lainnya pada mesin carding dalam mengolah serat alam maupun buatan. Akhirnya peneliti ingin melakukan penelitian yang relevan dengan masalah yang terjadi maka penulis memilih judul untuk penyususnan skripsi, sebagai berikut : “ PENGARUH PUTARAN TAKER-IN TERHADAP JUMLAH NEP KAPAS 100%  PADA MESIN CARDING  HOWA  CM 300
Dengan melakukan penelitian ini diharap mampu mendapatkan mutu produksi mesin carding yang di hasilkan.
B. Identifikasi Masalah
      Dari masalah diatas dapat diidentifikasikan bahwa ada beberapa faktor yang dapat memepengaruhi tingginya nep disebabkan.   
1.      Apakah bahan baku berpengaruh terhadap jumlah nep web di mesin carding?.
2.      Apakah pengaruh top flat – cylinder berpengaruh terhadap jumlah nep web di mesin carding?.
3.      Apakah pengaruh cylinder – doffer berpengaruh terhadap jumlah nep web di mesin carding?.
4.      Apakah pengaruh cylinder – taker-in berpengaruh terhadap jumlah nep web di mesin carding?.
5.      Apakah pengaruh dist plate – taker-in berpengaruh terhadap jumlah nep web di mesin carding?.
6.      Apakah kecepatan putaran cylinder berpengaruh terhadap jumlah nep web di mesin carding?.
7.      Apakah kecepatan putaran doffer berpengaruh terhadap jumlah nep web di mesin carding?.
8.      Apakah kecepatan putaran taker-in berpengaruh terhadap jumlah nep web di mesin carding?.
9.      Apakah diameter puly motor berpengaruh terhadap jumlah nep web di mesin carding?.
                  Dari hasil identifikasi masalah diatas maka peneliti akan melakukan  penelitian hanya pada putaran taker-in terhadap jumlah nep web kapas 100% pada mesin carding HOWA CM 300.
      Karena keterbatasan waktu, biaya dan tenaga maka penulis untuk menghindari pembahasan yang menyimpang dari maksud dan tujuan maka penulis melakukan pembatasan penelitian adalah :
1.      Variabel  bebas
       Penelitian dilakukan pada putaran taker-in 200 rpm, 210 rpm, 220 rpm, 230 rpm terhadap jumlah Nep kapas 100% pada mesin Carding  HOWA  CM 300.
2.      Variabel Terikat
     Variabel terikat pada penelitian ini penulis hanya membatasi pada parameter jumlah nep kapas 100% pada mesin Carding HOWA  CM 300.
Hubungan kausal antara kecepatan putaran taker – in  (X) dengan jumlah nep web (Y) dapat dibentuk dengan model sebagai berikut:

         Keterangan
Y
 
X
 
                                                              X = Putaran Taker – in
                                                                                             Y = Jumlah Nep

                   Variabel bebas              Variabel terikat
C. Maksud dan Tujuan Penelitian
1.         Maksud Penelitian.
     Meneliti sejauh mana pengaruh  putaran taker-in terhadap jumlah Nep kapas 100% pada mesin carding merk HOWA tipe CM 300.


2.      Tujuan Penelitian.
      Tujuan penelitian ini untuk mendapatkan mutu sliver carding yang lebih baik, dengan cara mentapkan bersarnya kecepatan putaran taker – in. Dimana mutu sliver carding yang baik terdiri dari jumlah nep yang rendah dan berat  ( CV % ) akan menghasilkan benang bermutu tinggi, sehingga apa yag ditargetkan akan tercapai.
D. Kegunaan Penelitian
1.                  Sebagai wadah penerapan pengembangan ilmu yang telah didapat di Universitas Islam Syekh Yusuf Tangerang.
2.      Bagi mahasiswa sebagai sumbangan pemikiran bagi dunia akademik dengan adanya hasil penelitian pengaruh putaran taker-in teradap jumlah Nep kapas 100% pada mesin carding.
3.      Bagi perusahaan diharapkan hasil yang di peroleh dapat dijadikan bahan pertimbangan untuk untuk mendapatkan ukuran kecepatan putaran taker – in yang akuratdalam satuan RPM dan menghasilkan produksi yang optimum.
E. Kerangka Pemikiran dan Hipotesis
1.      Kerangka Pemikiran.
      Seperti telah di jelaskan pada indentifikasi masalah, bahwa dalam peningkatan mutu benang garuk (carded) Ne 10’s yang akan di lakukan pada mesin Carding.
Dengan penyimpangan data mutu sliver Carding yang menurun di akibatkan jumlah Nep makin meningkat. Sedangkan yang terjadi pada web mesin Carding itu biasa di pengaruhi oleh serat - serat mati yang ada pada kapas itu sendiri dan juga diakibatkan oleh mesin Cardingnya sendiri yang mengakibatkan simpul yang terbentuk oleh hooke serat akibat proses carding yang tidak sempurna. Selanjutnya mengenai terjadinya jumlah Nep yang semakin meningkat ini akibat settingan mesin yang kurang sempurna.
Hal ini mungkin bisa wire tumpul, rpm terlalu tinggi atau jarak setting antara part – part yang tidak tepat. Kemudian untuk jumlah nep web yang meningkat berarti bahwa proses carding action pada serat kapas kurang sempurna.
Selanjutnya mengenai terjadinya nep web yang semakin meningkat, ini berarti terjadi perubahan yang tidak merata pada sliver.
Hal ini bisa dipengaruhi oleh rpm silinder yang tinggi artinya proses stripping action yang tidak sempurna antara silinder – doffer dan bisa juga disebabkan carding action yang tidak sempurna yaitu antara silinder – flat, bisa juga dipengaruhi proses stripping action yang tidak sempurna antara taker in – silinder, bisa juga disebabkan oleh penggarukan yang tidak sempurna antara taker in – feed roller, bisa juga disebabkan oleh lap yang disuapkan tidak rata ( tebal – tipis ) atau bisa juga disebabkan oleh pengaturan tegangan antara doffer – calendar roller yang tidak sempurna.
Kecepatan putaran Taker – in sangat berpengaruh sekali terhadap jumlah nep web mesin Carding. Apabila kecepatan putaran Taker – in cepat disesuaikan dengan bahan baku yang digunakan maka jumlah nep yang dihasilkan akan lebih sedikit dari standar yang ditentukan penggunaan bahan baku dan sebaliknya apa bila kecepatan putaran Taker – in rendah akan menghasilkan jumlah nep yang banyak.
Proses carding pada prinsipnya dilakukan melewatkan lapisan kapas atau gumpalan serat diantara kedua permukaan yang menyerupai parut kawat yang bergerak dengan kecepatan yang tidak sama. Dengan demikian maka gumpalan – gumpalan serat tersebut akan tergaruk dan terurai. Karena jarak antara kedua permukaan tersebut sangat dekat, maka gumpalan – gumpalan tersebut akan membentuk lapisan serat mengarah kearah gerakan permukaan.
Dengan terurainya gumpalan – gumpalan serat tersebut menjadi lapisan tipis, maka kotoran – kotoran yang berada didalam gumpalan – gumpalan serat akan mudah dipisahkan dan dibersihkan.
Karena kita dihadapkan kepada jumlah nep web yang tinggi maka pendekatan penelitian kearah kecepatan putaran Taker – in. Disinilah baik buruknya mutu sliver carding ditentukan, jadi upaya untuk meningkatkan mutu benang di mesin Carding selalu dilakukan antara lain memperbaiki mutu bahan baku, perawatan dan perbaikan mesin, kebersihan, kecepatan mesin dan lain – lainnya.
2.      Hipotesis.
Dari deskripsi teori diatas dapat diajukan hipotesis bahwa perubahan kecepatan putaran taker-in akan berpengaruh terhadap jumlah nep kapas 100% pada mesin carding. Berdasarkan masalah di atas, maka di peroleh rumusan masalah :
Apakah ada perbedaan jumlah nep kapas dimesin carding HOWA CM 300 antara pengaruh putaran 200 rpm, 210 rpm, 220 rpm, 230 rpm
F. Metode Penelitian
      Metode pengumpulan data yang dilakukan penulis untuk mendapatkan data – data yang diperlukan dalam penyusunan skripsi, meliputi :
1.      Metode Pengumpulan Data
      Metode pengumpulan data yang digunakan adalah data primer yang diperoleh dari hasil percobaan dipabrik dan data sekunder yang diperoleh dari buku – buku literature.


2.      Metode Analisis Data
      Data diuji dengan menggunakan metode statistic analisis ragam dan uji beda rerata ( New Multi Comparison ) berdasarkan metode New Duncan.
            Metode penelitian yang digunakan penulis adalah kuantitatif, eksperimen dan kausal. Perlakuan disusun dengan menggunakan anava satu arah dengan 4 putaran percepatan taker - in yang masing–masing akan di ulang tiga kali (r = 3), maka pola disein eksperimen ditentukan dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terbentuk t x 3 = 12 plot putaran taker – in.
      Faktor putaran taker – in terdiri dari 4 taraf faktor, yaitu :
1)      Dengan kecepatan putaran taker – in 200 rpm.
2)      Dengan kecepatan putaran taker – in 210 rpm.
3)      Dengan kecepatan putaran taker – in 220 rpm.
4)      Dengan kecepatan putaran taker – in 230 rpm.
G. Lokasi  dan Waktu Penelitian
1.      Lokasi Penelitian.
Penelitian dilakukan di mesin Carding merk Howa CM 300 pabrik pemintalan PT.KUMATEX JL. M.H Thamrin No I - Tangerang , Banten.

2.      Waktu Penelitian
Penelitian dilakukan mulai pada tanggal 16 Maret 2010 sampai dengan 15 Juni 2010. Pada tanggal tersebut dilakukan pengumpulan data, penelitian serta pengujian hasil penelitian dan analisa data.

Posted in:
Tags:

Continue Reading